Microsoft releases app that guesses age


WTNH Connecticut News

(WTNH)– Microsoft wants to guess your age with an app.

The company released a new machine learning application Thursday that claims in can guess your age. The app, called How-Old.net, uses face detection software to determine age and gender.

Upon the app’s release, social media blew up with people sharing their results. But more often than not, the app was completely off when guessing people’s ages.

Microsoft says they are still improving the feature. To try out the app on yourself, click here.

View original post

KEMANA SAYA BERTUMBUH?


Bacaan: Galatia 6:7-10 NATS: Apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya (Gal. 6:7) Sebagian orang menua dengan memiliki sifat menarik, sementara sebagian lainnya menua dengan memiliki sifat suka menggerutu dan pemarah. Kita perlu mengetahui ke mana kita bertumbuh karena kita semua akan tambah tua. Seseorang tidak akan menjadi mudah tersinggung dan pemarah hanya karena bertambah tua. Penuaan tak seharusnya membuat kita menjadi suka mencela dan mudah marah. Tak begitu. Tampaknya kita menjadi pribadi seperti yang sudah kita bentuk selama ini. Paulus menulis, “Siapa yang menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan …, tetapi siapa yang menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal …” (Gal. 6:8). Mereka yang membantu orang lain demi kepentingan diri sendiri dan hanya memikirkan diri sendiri, menabur benih yang akan menghasilkan tuaian berupa kesengsaraan dalam diri mereka dan orang lain. Sebaliknya, mereka yang mengasihi Allah dan memedulikan sesama, menabur benih yang kelak akan menghasilkan tuaian berupa sukacita. C.S. Lewis berkata, “Setiap Anda membuat keputusan, sebenarnya Anda mengubah inti dari diri Anda, yaitu bagian diri Anda yang turut membuat keputusan, menjadi sesuatu yang agak berbeda dengan sebelumnya.” Kita bisa menyerahkan kehendak kita kepada Allah setiap hari, sambil memohon kekuatan dari-Nya untuk hidup bagi Dia dan sesama. Ketika Dia bekerja di dalam diri kita, sifat-sifat yang menarik dan kebaikan akan tumbuh dalam diri kita. Maka, kita perlu bertanya: Ke mana saya bertumbuh? –DHR Yang lebih pasti dari panen musiman Adalah panen pikiran dan perbuatan; Seperti benih yang ditabur tangan, Itulah tuaian yang kita kumpulkan. –Harris BENIH YANG KITA TABUR HARI INI MENENTUKAN JENIS BUAH YANG AKAN KITA TUAI ESOK HARI ———————- Diambil dari Renungan Harian app Google Play Strore.

“CLOCKY”


Bacaan: Mazmur 39 NATS: Ya Tuhan, beri tahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku, supaya aku mengetahui betapa fananya aku (Mazmur 39:5) Seorang mahasiswa lulusan Massachusetts Institute of Technology telah membantu memecahkan masalah tidur terlalu lama. Gauri Nanda dari jurusan desain industri yang berusia 26 tahun, membuat “Clocky”, sebuah jam alarm yang dibungkus busa dan diberi roda yang membuat jam itu dapat berlari dan bersembunyi sebelum dering alarmnya sempat dimatikan. Sebuah papan sirkuit memberi perintah pada motor-motor kecil untuk bergerak secara acak, sehingga jam itu akan berhenti di tempat yang berbeda setiap hari. Untuk mematikannya, Anda harus turun dari tempat tidur dan mencari jam itu. Kita sering mengatakan bahwa “waktu cepat berlalu”, tetapi orang bijak membuktikan bahwa “waktu itu tetap; kitalah yang berubah”. Entah kita cepat bangun atau masih tidur di tempat tidur, kita akan terus dikendalikan oleh kekuatan misterius yang bernama waktu. Setiap hari, kesadaran yang baru tentang singkatnya hidup dapat mendorong kepercayaan kita kepada Allah. Sang pemazmur menulis, “Ya Tuhan, beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku, supaya aku mengetahui betapa fananya aku! …. Ya, setiap manusia hanyalah kesia-siaan! …. Dan sekarang, apakah yang kunanti-nantikan, ya Tuhan? Kepada-Mulah aku berharap” (Mazmur 39:5,6,8). Apa yang perlu kita selesaikan hari ini? Mungkin kita perlu memulai tugas penting, mengerjakan hal-hal yang lazim, atau bekerja untuk memperbarui hubungan yang berarti sebelum kita tidur dan dibangunkan kembali. Hidup itu singkat, tetapi Allah kita kuat –DCM JANGAN MEMBUANG WAKTU INVESTASIKANLAH WAKTU ANDA ———————– Diambil dari Renungan Harian app Google Play Store.

TETAP BERSUKACITA


Bacaan: Filipi 1:3-14 NATS: … aku selalu berdoa dengan sukacita (Filipi 1:4) Sebuah kutipan bijak mengatakan, “Pergumulan dan penderitaan tak dapat dihindari, tetapi kesedihan adalah pilihan.” Ya, ada banyak alasan yang membuat kita tidak dapat bersukacita, tetapi sebenarnya sukacita tidak ditentukan oleh kondisi di sekeliling kita. Dalam situasi terburuk pun, sebenarnya kita tetap dapat bersukacita, tergantung apakah kita memilih untuk tetap bersukacita atau larut dalam kesedihan. Mengawali suratnya kepada jemaat di Filipi, Paulus berkata bahwa ia sedang bersukacita dalam doanya (Filipi 1:4). Apa yang membuat Paulus bersukacita? Hidup yang nyaman? Dalam kondisi apa ia berkata demikian? Bacaan kita menunjukkan bahwa Paulus mengatakan hal ini saat ia berada dalam penjara yang begitu gelap dan dingin! Penjara boleh memenjarakan tubuhnya, tetapi tidak dapat memenjarakan sukacita dalam dirinya! Andaikan Paulus memilih untuk bersedih hati, maka kekuatannya hilang, dan pengabaran Injil pun akan berhenti. Namun, Paulus bersandar kepada kekuatan Allah yang menolongnya untuk tetap bersukacita; sehingga ia dapat melihat arti penderitaannya, terus memikirkan kemajuan pengabaran Injil, dan mendoakan kesetiaan rekan-rekannya di luar penjara (ayat 9-11)! Apakah pergumulan dan penderitaan merebut sebagian besar sukacita kita? Apakah masalah dalam pekerjaan, pelayanan, studi, bahkan keluarga, telah membuat kita menjadi anak Tuhan yang lupa untuk tertawa? Pilihan untuk terus bersedih tak akan membantu, sebaliknya akan membuat kita pesimis dalam memandang hidup. Mari kita memohon pertolongan Allah untuk dapat bersukacita dalam segala keadaan! -PK PENDERITAAN BOLEH MEMBUAT KITA SEAKAN-AKAN DIPENJARA NAMUN SESUNGGUHNYA IA TAK DAPAT MEMENJARA SUKACITA KITA ————— Diambil dari Renungan Harian app Google Play Store.

MALAM


Bacaan: Efesus 5:6-17 NATS: Setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Menjelang malam, Ia sendirian di situ (Mat. 14:23) Malam adalah salah satu waktu favorit saya. Itulah saatnya untuk mengingat kembali apa yang telah berlalu pada hari itu, melakukan berbagai pemeriksaan, dan merenungkan berbagai peristiwa hari itu — entah peristiwa baik atau buruk. Apabila cuaca sedang baik, saya dan istri akan berjalan-jalan ke luar, atau kadang kala kami hanya membuat secerek kopi dan berbincang-bincang tentang hari yang kami lewati dan apa yang telah kami lakukan. Itulah saatnya untuk melakukan pertimbangan dan evaluasi dengan cermat, bersyukur, dan berdoa. Tuhan kita juga melakukan hal serupa selama pelayanan-Nya di dunia. Di akhir hari yang melelahkan dan membutuhkan banyak perhatian-Nya, Dia naik ke atas gunung selama beberapa saat untuk berefleksi dan berdoa di hadapan Bapa-Nya (Mat. 14:23). Nilai dari tindakan saat teduh di hadapan Bapa surgawi dan refleksi diri secara cermat terhadap bagaimana kita telah menjalankan kehidupan selama ini, memiliki signifikansi yang besar. Barangkali ini merupakan tujuan Rasul Paulus saat menantang kita untuk menggunakan waktu sebaik-baiknya (Ef. 5:16). Ia ingin memastikan bahwa kita akan memanfaatkan waktu yang diberikan Allah dengan sebaik-baiknya untuk hidup dan melayani. Manakala hari akan berakhir, luangkan waktu sejenak untuk berefleksi diri. Di tengah ketenangan malam, di hadapan Allah, kita dapat memperoleh cara pandang yang lebih akurat tentang kehidupan dan cara menjalaninya –WEC Aku datang dari dunia perselisihan, Dengan beban, cobaan, dan derita Ke tempat indah, tenang, dan aman Bertemu Yesus muka dengan muka. –Brandt AKAN MUNCUL SEMAKIN BANYAK REFLEKSI DARI YESUS KETIKA KITA SEMAKIN BANYAK BEREFLEKSI TENTANG DIA ———– Diambil dari Renungan Harian app Google Play Store

MERINTIH DULU


Bacaan: Roma 8:16-30 NATS: Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, akan menghasilkan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya (2Korintus 4:17) Saya pernah mendengar sebuah seminar kristiani yang berjudul, “Bagaimana Hidup Tanpa Stres”. Harapan yang tidak realistis seperti itu langsung membuat saya stres! Memang kita semua rindu untuk terlepas dari banyak tekanan hidup. Teman kristiani saya, yang keluarganya mengalami masa-masa sulit, mengaku merasa dikecewakan oleh Allah. Ia berkata, “Saya telah berdoa, menderita, dan memegang janji-janji Allah, tetapi tidak ada perubahan. Yang lebih menjengkelkan adalah saya tahu bahwa Dia sebenarnya punya kuasa untuk melepaskan kami dari masalah ini. Saya telah melihat Dia melakukannya sebelumnya, tetapi kini Dia diam.” Larry Crabb, dalam bukunya Inside Out, menekankan bahwa satu-satunya pengharapan kita untuk mengalami kelepasan yang sempurna dari kesusahan adalah kembali ke surga bersama Yesus. “Sebelum saat itu tiba,” katanya, “kita akan tetap merintih atau berpura-pura semua baik-baik saja.” Ia menambahkan, “Namun kekristenan modern justru berusaha membelokkan kita agar terhindar dari pengalaman berkeluh-kesah yang tidak menyenangkan.” Teman saya berkeluh-kesah dan ia tidak tidak menutup-nutupinya. Seperti kebanyakan kita, ia pun ingin segalanya berubah. Namun kenyataannya, memang ada yang berubah — ia berubah! Paulus meyakinkan kita dalam 2 Korintus 4:17 bahwa penderitaan kita yang sekarang adalah penderitaan ringan dan singkat bila dibandingkan dengan perubahan penting dan kekal yang diakibatkannya dalam hidup kita. Kita saat ini berkeluh-kesah, namun kelak ada kemuliaan di bagi kita (Roma 8:18) –JEY ALLAH SERING MEMAKAI KEMUNDURAN UNTUK MEMBUAT KITA MAJU ——————— Diambil dari Renungan Harian app Google Play Store.